Dunia, ibarat pohon yang rindang - GBPM Training
Menu
Mau Ganteng ? Pinter ? Jati Diri ? Profesional ? Gabung Sekarang - GRATIS !

Dunia, ibarat pohon yang rindang

Apr
26
2017
by : khamim sholikhuddin. Posted in : Management Qolbu

Foto-Aa'-Gym

Dunia, ibarat pohon yang rindang

Paling tidak ada dua ayat dalam al-quran yang secara mengesankan memberikan perumpamaan tentang dunia. Ayat yang pertama berbunyi:

Dan berilah perumpamaan kepada mereka ( manusia ), kehidupan di dunia adalah sebagai air hujan yang kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
( QS Al Kahfi [18] : 45 )

Sedangkan ayat yang kedua berbunyi:

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan di dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanaman mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ( nanti ) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
( QS Al Hadid [57] : 20 )

Dunia ini memang tidak ada apa-apanya. Dia hanyalah ladang kesia-siaan sekiranya kita hanya menjadikan sebagai pemuas nafsu. Dititipi harta, gelar, pangkat dan jabatan, bukannya dijadikan sebagai ladang syukur nikmat kepada Dzat melainkan dijadikan ladang Petaka; ujub, riya, sum’ah, takabur, serta gemar berbuat aniaya pada sesama manusia. Dititipi istri yang cantik dan anak, bukan membuatnya semakin dekat dengan Allah melainkan semakin lalai dan jauh dari karunia-nya.

Orang seperti ini biasanya akan selalu merasa pusing dengan urusan dunia. Setiap saat pikirannya akan selalu disibukkan untuk mengejar dunia sebanyak-banyaknya. Ia akan tertawa apabila yang dikerjakannya di dapat, tetapi akan kecewa, gelisah dan marah bila apa yang diinginkannya tidak tercapai.

Sebaliknya, bagi siapa saja yang telah memahami hakikat segala urusan di dalamnya. Hidup di dunia ini ibarat mampir berteduh di bawah sebatang pohon rindang. Kita tidak mesti pusing dengan keadaan pohon tersebut sebab yang penting bisa berteduh. Suatu saat kita pasti akan meninggalkannya dan semua yang ada Janganlah dianggap punya kita. Semakin kita anggap bahwa pohon Rindang itu milik kita, maka akan semakin berat kita saat meninggalkannya.

Bagaimana dengan nasib anak cucu kita? Tidakkah nanti kita akan meninggalkan keturunan yang lemah dan menderita karena tidak kita warisi dengan harta yang cukup. Hendaknya buang jauh-jauh pikiran semacam ini. Bukankah keturunan kita pun sudah lengkap dengan rejekinya? Dulu Kakek kita lahir di dunia tidak membawa apa-apa, tetapi sampai sekarang masih bisa makan, berpakaian dan memiliki rumah tempat berteduh. Ayah ibu kita lahir ke dunia, sama-sama tidak membawa apa-apa, namun hingga kini masih bisa hidup dengan nyaman. Maka, keturunan kita pun insya Allah akan dicukupkan segala kebutuhannya.

Jadi, yang harus kita siapkan adalah iman dan ilmu supaya ketika anak kita mendapat rejeki bisa bersyukur, sehingga menjadi nikmat dunia sekaligus nikmat akhirat. Demikian juga ketika Allah mengambil rejekinya. Karena dia sudah tahu ilmunya, maka dia bisa sabar, sehingga menjadi tambah dekat dengan Allah. Walhasil, ketika Allah menetapkan kejadian apapun baginya, dia bisa Ridho menerima. Ini sebenernya yang harus kita siapkan.

Dengan demikian, orientasi kita yang sebenarnya adalah” wabtaghi fiimaa aatakallahuuddaarul aakhirah, wa laa tansa nashiibaka minaddunya.” ( QS Al qhasas [28] : 77 ), Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu ( kebahagiaan ) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari ( kenikmatan ) duniawi…

Kita akan dapat kesempatan merasa kenikmatan duniawi apabila kita berusaha menikmati proses dari suatu pekerjaan, bukan ingin menikmati hasilnya Semata. Karena hasil dari suatu pekerjaan itu belum tentu akan dapat kita nikmati.

Menikmati suatu proses pada hakekatnya adalah menikmati sesuatu tentang ikhtiar. Selagi niat dan caranya benar serta di jalan Allah, maka pastilah ladang ikhtiar ini akan dicatat oleh Allah. Adapun mengenai hasil dari ikhtiar itu sendiri, tercapai atau tidaknya itu soal izin Allah, yang ujung-ujungnya harus membuat kita tawakal, Apapun Yang Terjadi.

artikel lainnya Dunia, ibarat pohon yang rindang

Thursday 26 May 2016 | Management Qolbu

Bersungguh-sungguh kepada Allah SWT Oleh KH. Abdullah Gymnastiar / Aa’ Gym ” Dan orang-orang yang berjihad…

Thursday 3 November 2016 | Management Qolbu

Manajemen Qolbu Menghidupkan hati nurani bangsa Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tercurah…

Wednesday 23 November 2016 | Management Qolbu

Al Amin ( membangun kredibilitas ) Sebelum Nabi Muhammad S A W. dikukuhkan menjadi seorang rasul,…

Sunday 25 September 2016 | Management Qolbu

Qolbun Salim Mendambakan Kedamaian a’udzubillahi minasy syaithanir rajim, ya ayyuhal ladzina amanut taqullaha haqqa tuqaatihi wa…

Upcoming events:

no event

Jl. Gatot Subroto No.46b Kupang Lor Rt.04 Rw.03 Ambarawa, Kab. Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
LINE : grosirline
5A1B6ACD
085640881921