Keutamaan yang terabaikan - GBPM Training
Menu
Mau Ganteng ? Pinter ? Jati Diri ? Profesional ? Gabung Sekarang - GRATIS !

Keutamaan yang terabaikan

Apr
19
2017
by : khamim sholikhuddin. Posted in : Management Qolbu

Foto-Aa'-Gym

Keutamaan yang terabaikan

Dan Sesungguhnya kami benar-benar menguji kamu agar kami mengetahui orang orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu, dan agar kami bisa nyatakan ( baik dan buruknya ) hal ihwal mu.
( QS Muhammad [47] : 31 )

Ada satu fenomena menarik yang tampaknya dapat menjadi indikasi betapa sebagian besar Manusia kerap kali Kurang pandai menentukan skala prioritas dalam melakukan suatu tindakan. Misalnya, dalam sebagian dari prosesi amalah orang-orang ketika menunaikan ibadah umroh dan haji.

Di Masjidil Haram ada yang namanya multazam, yakni satu tempat yang sangat mustajab. Letaknya antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Orang-orang yang ingin mencium Hajar Aswad jumlahnya ratusan, sehingga berdesak-desakan. Akan tetapi yang sungguh mengherankan adalah Mengapa orang-orang yang memilih berada di Multazam jumlahnya amat sedikit? Sungguh tidak sebanding dengan mereka yang mau mencium Hajar Aswad. Apalagi bila dibandingkan dengan jumlah orang yang thawaf, yang jumlahnya beratus-ratus apalagi ketika musim haji. Jumlah itu bahkan bisa mencapai beribu-ribu. Padahal justru tempat inilah yang sangat mustajab.

Sekiranya mau kita bandingkan antara kedua tempat itu, akan tampak kenyataan bahwa keutamaan ( Fadhillah ) berdoa di Multazam itu, wallahu a’lam, lebih tinggi daripada mencium Hajar Aswad. Mencium Hajar Aswat itu hukumnya Sunnah; dikerjakan mendapat pahala, tidak dikerjakan sekalipun tidak menjadi dosa. Akan tetapi, kalau untuk dapat menciumnya saja harus berdesak-desakan dan berebutan, sehingga sampai-sampai harus saling sikut dan saling dorong, Tidakkah ini termasuk perbuatan zalim?

Bagi yang pernah melaksanakan umroh atau haji, pemandangan orang-orang saling berebut untuk mencium hajaraswad itu memang tampak sekali. Orang-orang yang sedang dalam prosesi ibadah umroh atau haji itu sendiri akan memaklumi keadaan itu. Betapa tidak! Untuk sampai dapat mencium saja alangkah susah nya karena setiap orang sama sama ingin dapat lebih dulu. Apalagi untuk keluar dari kerumunan Setelah usai melakukan ibadah tersebut. Akibatnya, tangan bisa secara reflek mengikut, mendorong kepala dan sebagainya. Alih-alih ingin beroleh pahala sunnah, malah bisa jadi kita menyakiti orang lain. Bukankah itu sangat potensial berakibat dosa?

Anehnya terhadap Multazam yang notabene tempat yang teramat mustajab, orang-orang sepertinya tidak berminat. Akibatnya, orang-orang yang mendatangi tempat itu jumlahnya sedikit saja. Sekiranya kita memilih berdoa di sana, suasananya akan terasa relatif tenang karena tidak saling mengganggu sehingga kita pun bisa berdoa secara lebih khusyuk.

Banyak diantara kita yang kurang memiliki kemampuan untuk menentukan prioritas ( hampir ) dalam setiap tindakan. Ketika hendak melakukan sesuatu, kerapkali kita hanya terdorong oleh rasa suka atau sekedar karena ingin belaka dan tentunya tanpa disadari pengetahuan, pemikiran dan pertimbangan yang matang.

Seorang mahasiswa, misalnya, tidak bisa belajar dengan baik karena ia tidak pernah bisa bertahan dalam kondisi prioritas. Manakala tiba saatnya untuk mempelajari kembali materi perkuliahan tadi siang, coba duduk di meja belajar. Buku dibuka, tetapi mata sepintas menangkap majalah terletak di sudut meja. Hati pun kontan tertarik. Sejurus kemudian, Ia pun larut membolak-balik halaman demi halaman masalah itu.

Setelah Bosan, majalah pun hendak dikembalikan ke tempat semula. Akan tetapi, mata kembali menangkap selembar foto ukuran postcard yang ternyata tadi tertutupi oleh majalah. Dan ia hafal betul, bahwa itu adalah foto si dia. Tangan kananku meraih foto. Ternyata tangan kirinya reflek menyambar Walkman berisi kaset lagu pop yang tadi sore baru dibeli, tetapi belum sempat dinikmati. Mungkin habis satu jam ia duduk menghadapi meja, namun buku catatan kuliah itu tetap utuh terbuka tanpa berganti halaman.

Inilah sesungguhnya salah satu kelemahan kita. Kita terkadang membiarkan diri sendiri hanyut oleh hanya sekedar keinginan sesaat. Akibatnya, kita pun tidak pernah mendapatkan hasil yang terbaik dalam hidup ini. Sekiranya kita berani jujur kepada diri sendiri, cobalah bertanya adakah di antara hari-hari yang telah dilalui kita menetapkan suatu prioritas tindakan? Pada kenyataannya, hampir dapat dipastikan, amat jarang kita melakukan hal itu.

Akibatnya, kita hampir tidak pernah merasa kecewa dengan aneka kegagalan yang disadari ataupun tidak mewarnai berbagai Aktivitas keseharian kita, baik menyangkut urusan dunia maupun berkaitan dengan urusan ibadah. Menit demi menit dalam hari-hari silih berganti, semuanya berlalu begitu saja seakan hampa tanpa makna.

Adakah kalbu ini pernah merasakan sedih karena puasa wajib kita yang bolong karena tercabik-cabik oleh aneka perbuatan maksiat pembuatan; maksiat mata, maksiat mulut, maksiat pendengaran, maksiat kaki dan tangan, dan maksiat hati serta pikiran? Adakah Kita pernah merasa berhutang kepada Allah yang telah mencukupkan kita dengan aneka nikmat sementara tangan ini terlalu kikir untuk bersedekah Kendati hanya beberapa ratus rupiah? Dan, yang lebih jauh lagi, Adakah badan kita pernah kecewa lantaran tidak pernah mampu bersungguh-sungguh kepada dia?

Kuncinya ternyata terletak pada diri kita sendiri. Sekiranya disadari bahwa diri kita memiliki karakter yang kurang baik, maka keinginan untuk mengubahnya menjadi baik, Bukankah datang dari orang lain. Melainkan dari diri sendiri. Kesungguhan untuk berproses meniti perubahan dari waktu ke waktu itulah yang insya Allah akan membuahkan kedewasaan, kearifan dan kematangan hidup. Pada akhirnya ke tiga buah perjuangan ini, tidak bisa tidak, akan melahirkan kemampuan menimbang-nimbang terlebih dahulu segala rencana, tindakan dan aktivitas yang akan dilakukan untuk selanjutnya membuat keputusan yang tepat dan bijak.

Pertanyaan-pertanyaan pun selalu dilontarkan ke dalam diri sendiri; untuk apa saya melakukan hal ini? Mengapa saya harus melakukannya? Apa untungnya kalau ini saya lakukan? Apakah ada yang lebih penting daripada sekedar melakukan hal ini? Renungkanlah Semua ini karena disini awal dari tindakan prioritas.

artikel lainnya Keutamaan yang terabaikan

Tuesday 18 October 2016 | Management Qolbu

Hidup yang diatur Allah ” Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka Kemanapun kamu menghadap, disitulah…

Friday 17 February 2017 | Management Qolbu

Mengapa mencari kambing hitam? Hampir bisa dikatakan bahwa tidak ada orang yang tidak memiliki masalah dalam…

Wednesday 12 October 2016 | Management Qolbu

Hikmah dari makhluk “rendah” “Sesungguhnya Allah SWT. tiada segan (malu) membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang…

Wednesday 13 July 2016 | Management Qolbu

Manajemen Qolbu Kunci pengokoh jiwa 1. Siap Senantiasa menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya satu…

Upcoming events:

no event

Jl. Gatot Subroto No.46b Kupang Lor Rt.04 Rw.03 Ambarawa, Kab. Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
LINE : grosirline
5A1B6ACD
085640881921